Belakangan ini makin banyak pengguna media sosial yang gak peduli dengan etika dalam menggunakannya. Padahal, etika-etika itu sebetulnya sama aja dengan etika yang berlaku dalam keseharian. Ketidakpedulian dan ketidakpahaman itu menjadi salah satu alasan timbulnya fenomena cyber-bullying. Orang juga semakin mudah dan merasa punya hak untuk melontarkan komentar-komentar negatif tanpa merasa bersalah dan memikirkan perasaan sang penerima komentar.

 

Saya akhirnya memilih duduk dan berbincang bersama Alya Nurshabrina, Miss Indonesia 2018. Jadi seorang beauty queen di era media sosial ini gak selamanya indah. Kalau dulu di era 90-an hingga 2000 awal keikutsertaan wakil Indonesia dalam kontes kecantikan mendapat banyak protes karena dianggap tidak sesuai dengan budaya dan nilai keIndonesiaan, saat ini justru semakin banyak didukung dengan berkembangnya jumlah pageant lovers (sebutan bagi fans kontes kecantikan) di Indonesia. Sebagai representasi kecantikan perempuan Indonesia banyak netizen maha benar yang setiap harinya melontarkan masukan, kritikan, komentar negatif, bahkan melakukan cyber-bullying terhadap Alya, terutama ketika ia mewakili Indonesia dalam ajang Miss World 2018 di Sanya, Tiongkok. Alya dituntut tampil sempurna tanpa celah demi memuaskan keinginan mereka. Lalu bagaimana Alya menanggapinya?

 

Menurut kamu, apa sih bahayanya cyber-bullying?

Bahaya sekali, menurut saya cyber-bullying justru lebih parah dibandingkan dengan bullying di dunia nyata. Meski di dunia nyata bullying dilakukan dengan cukup sadis karena adanya interaksi langsung, namun setidaknya yang mengalami itu bisa mengetahui siapa pelakunya dan dapat mengupayakan damai. Sementara pada cyber-bullying, seringkali kita tidak dapat mengetahui identitas asli para pelakunya, sehingga sulit dan bahkan tidak memungkinkan untuk menindaklanjuti. Saya sangat prihatin dan berempati kepada teman-teman yang pernah menjadi korban cyber-bullying, karena pasti butuh proses yang tidak mudah untuk menguatkan mental agar selalu tegar dihadapan para cyber-bully. Jika mereka baca ini, semoga mereka semangat terus ya.

Alya nurshabria negative comments cyber bullying

Gimana sih cara kamu menanggapi negative comments?

I do my best not to see them just as comments, yet as constructive feedbacks. Terkadang memang ada saran berbobot yang tersirat dalam komentar berkategori ‘negatif’, sayangnya, seharusnya komentar-komentar tersebut dapat disampaikan dengan kalimat serta cara yang lebih sopan. Saya melihat semua akun media sosial saya sebagai medium untuk belajar, sehingga semua interaksi dengan pemberi komentar saya hargai dan saya pelajari intinya. Kemudian saya melakukan yang terbaik untuk menerapkan saran yang diberikan jika memang dapat membantu saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi, serta dapat membantu orang lain untuk juga menjadi lebih baik.

 

Buat kamu, seberapa penting manner dalam bermedia sosial? Kenapa?

Memiliki tata krama penting dalam semua aspek kehidupan. Menurut saya, justru bagaimana seseorang menulis konten media sosial atau mempergunakan fitur-fitur di dalamnya sebagai preview atau gambaran akan kepribadian asli sang pengguna. Kalau aslinya kita sudah berkelakuan baik, maka akan cukup tercerminkan melalui akun-akun media sosial kita. Namun kembali lagi, dunia maya bukan lah dunia nyata, karena belum tentu apa yang ada di media sosial adalah 100% fakta. Masih banyak penyebaran hoax yang perlu diwaspadai. Sehingga, berlaku baik di media sosial tidak hanya berguna sebagai cerminan kepribadian kita, namun juga untuk mencegah tersebarnya hoax di kemudian hari.

Setelah menjadi Miss Indonesia, ada gak perubahan perspektif terhadap media sosial yang kamu rasakan? Kalau ada, dari sisi sebagai pengguna / content creator atau sebagai audience?

Saya menjadi jauh lebih berhati-hati terkait apa saja yang saya bagikan melalui media sosial, mengingat semakin banyak ‘mata’ yang melihat dan mengikuti unggahan saya. Sebelum menjadi Miss Indonesia, saya sudah melakukan hal itu namun cenderung lebih ekspresif dan hanya terkait hal yang merepresentasikan diri saya. Yang berbeda sekarang ini adalah saya harus merepresentasikan diri sebagai anak muda Indonesia, sehingga apapun yang diunggah harus juga bermanfaat bagi anak muda.

Itu dari sisi kreator. Kalau dari sisi audiens, dulu saya pun sering berpikir “kenapa yan, kok masih jarang influencer yang mengunggah konten yang betul-betul edukatif?”, “Gimana ya caranya agar setelah menikmati konten-konten ini saya tidak hanya merasa terhibur namun juga tergerak melakukan sesuatu?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terus ada di benak saya selama bertahun-tahun dengan melihat konten-konten yang seharusnya bisa lebih berbobot.

 

Nah, mumpung sekarang akun saya sudah dapat dikategorikan sebagai influencer, ada banyak kesempatan untuk berada di sisi lain pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jadi, saat ini saya sedang giat belajar dan mengeksplorasi konten agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dengan harapan agar semua yang mengikuti konten saya bisa mendapatkan banyak pelajaran.

 

Bagaimana cara kamu mengembangkan positive mindset?

Yang paling pertama adalah diawali dengan banyak bersyukur yang diseimbangkan dengan semangat untuk belajar. Percayalah bahwa Tuhan pasti memiliki alasan mengapa kita diberikan berbagi ujian, baik dalam bentuk kesenangan maupun kesedihan. Semua itu harus disyukuri dan dipelajari. Saya tidak memungkiri bahwa dalam hidup pasti ada waktu dimana kita sedih, ada juga waktu ketika kita senang. Ketika ada pikiran negatif, itu pun juga normal kok, kita semua hanya manusia, yang terpenting adalah hal yang negatif tersebut itu pun harus dapat dinetralisir dengan rasa syukur dan semangat belajar.

Beauty with a purpose alya nurshabrina miss indonesia 2018 cyber bullying negative comments

Your message for pageant lovers?

Thank you so much for the support, pageant lovers! Berkat bantuan teman-teman pageant lovers, Indonesia dapat terus menorehkan prestasi di ajang internasional. Kobarkan terus semangat itu. Kalau boleh saya memberi saran, semoga teman-teman dapat lebih sabar dan apresiatif terhadap seluruh proses pembelajaran para pemenang kontes kecantikan. Percayalah, bahwa kami sedang melakukan yang terbaik meskipun tidak semuanya dapat disampaikan atau dikomunikasikan melalui media sosial.

 

Kedua, mari terus menghargai cantiknya keberagaman budaya bangsa kita. Siapapun yang menjuarai beauty pageant ialah yang terbaik dan layak untuk menjadi representasi Indonesia di angkatannya. Mari ubah sikap diskriminatif terhadap perbedaan yang mungkin dimiliki para pemenang beauty pageant dengan sikap inklusif yang menghargai semua perbedaan.

 

Konten seperti apa yang kamu suka atau ada rekomendasi konten positif versi kamu?

Saya menghargai tipe-tipe konten kreatif yang singkat, pada, dan jelas. Saya selalu senang mempelajari fakta-fakta baru dan melihat bagaimana orang-orang mengolahnya dengan cara mereka sendiri. Jadi, rentangnya cukup luas baik yang berbentuk komik, video, kampanye isu sosial, atau bahkan yang berbentuk infografis. Contoh akun-akun Instagram yang selalu saya nantikan unggahannya diantaranya akun milik National Geographic (@natgeo), ODESA Indonesia (@odesaindonesia), dan mpan (@komikrukii).

_____

Follow us on:

Instagram : https://instagram.com/vosfoyer

Youtube: https://youtube.com/c/vosfoyerchannel

Facebook: https://www.facebook.com/vosfoyer/

Line@: @vosfoyer

back