Selasa 5 Maret 2019 kemarin, vosFoyer bersama Mau Belajar Apa dan Foodirectory kembali mengadakan CREATALKS. Kali ini, kita ngebahas tentang “Stunning Content in 2019” bersama Bill Satya (Photographer) dan dua perempuan dibalik akun @overheardjkt, Amira Dayanara & Irene Pitarini.  Bertempat di Kantorkuu Co-Working & Event Space Citywalk Sudirman Jakarta, diskusi di Selasa malam itu berlangsung seru dan intimate banget. Sama seperti CREATALKS sebelumnya, diskusi dipandu oleh Windy Iwandi. Mau tau apa aja yang di-share? Simak rangkumannya di bawah ini!

Gimana awalnya kalian membuat konten?

Bill Satya: Pertamanya gue tertarik sama desain grafis pas masih SMA. Gue juga tertarik sama segala sesuatu tentang brand dan desain lah intinya, contohnya kayak desain clothing gitu. Pertamanya coba-coba motret. Pas itu masih pake kamera smartphone. Terus habis itu gue coba pinjem kamera dan pas coba kok seru ya… dinamis. Akhirnya gue coba jalan-jalan dan nangkep momen-momen yang ada di sekitar gue. Gue explore segala jenis fotografi lah dari situ.

Berlanjut pada 2015 akhirnya gue bikin Instagram tuh. Masih belajar awalnya dari komunitas-komunitas fotografi. Setelah gue banyak explore ternyata gue lebih suka outdoor photography nih. Pertamanya terima job itu dari adik kelas gue pas SMA yang minta difotoin. Jaman itu semua job diambil, bisa sampe 4 job/minggu. Sampai akhirnya di akhir 2015 itu gue mulai terima commercial job.  

Amira & Irene: Awalnya bermula dari jadi roommates pas kita kuliah di UCLA (University of California, Los Angeles), Amira kuliah komunikasi, kalo Irene desain. Kita terinspirasi dari @overheardla (Overheard Los Angeles). Terus kita memutuskan untuk mulai @overheardjkt di tahun 2016 karena pada saat itu belum ada yang buat di Jakarta. Kita penasaran dan pengen tahu pemikiran-pemikiran yang beda di Jakarta dari percakapan-percakapan masyarakatnya.

 

Ketika mulai di awal atau selama perjalanannya, apa tantangannya?

Irene & Amira: Awalnya sih kita betul-betul mulai dari nguping obrolan temen, tanya-tanya juga mereka dengar obrolan apa aja yang aneh-aneh. Kita post sehari sekali. Waktu itu sempat vakum 1 tahun karena ngerasa kontennya gak work dan kita juga sibuk sama kerjaan masing-masing. Habis itu kita mulai lagi setelah kontennya diangkat sama Dagelan dan jadi rame. Dari situ gak nyangka bisa jadi rame dan bahkan bisa masuk 5 akun dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia.    

Bill Satya: Tantangan pasti ada, salah satunya adalah nemuin karakter foto gue. Tapi gue coba terus gali. Yang juga sulit itu ketika gue udah punya ciri khas sendiri, eh ada yang ngikutin dan claim kalau itu style dia. Akhirnya ya gue terus aja jalanin present konten dengan cara yang berbeda. Disitu kita jadi unik dan beda.   

Gimana sih seorang Bill Satya nentuin konsep konten?

Bill: Kalau gue sih lebih ke yang relate aja sama audience gue dan sesuai waktunya. Kalau dulu sih gue bisa upload 3 konten sehari. Jadi kalau pagi, fotonya pagi. Kalau siang, fotonya siang. Begitu juga pas malam. Biasanya sih gue juga punya stok foto. Ambil momen yang tepat aja sih. Buat gue, ketika merencanakan konten, research is the key. Kalo mau motret suatu tempat biasanya gue udah cari dulu tuh sebelumnya soal apa yang menarik, apa yang bisa gue angkat, dan spot-spot bagusnya. Jangan lupa pelajari karakter audience kalian, mereka sukanya konten yang seperti apa. Gue pribadi tipe yang saklek sih, melakukan apa yang gue seneng aja.

 

Buat yang bisnis F&B, kira-kira gimana caranya bikin konten yang punya stopping power?

Bill: Kasih tunjuk detail makanannya, warna makanan jangan dianeh-anehin atau diturunin. Pemilihan waktu post dan caption yang sesuai gambar juga jadi poin penting. Content yang effortless juga sekarang banyak dinikmatin, gak ribet dan keliatan natural aja.

Gimana caranya buat dapet inspirasi atau jadi kreatif?

Bill: Kalo gue di awal latihannya pake metode ATM (amati, tiru, modifikasi). Terus gue juga sering kolaborasi sih biar tau perpektif orang lain juga. Gak ada salahnya untuk nanya atau minta pendapat orang lain dan tahun konten mana yang works. Dari situ bisa belajar lagi buat konten-konten yang baru dan beda.

 

Gimana sih cara menentukan fokus konten kalian?

Amira & Irene: Kalau kita sih lebih general, karena kan Overheard Jakarta gak menghighlight topik tertentu. Kita cari aja topik yang kira-kira audiencenya banyak dan bisa relate sama konten itu. Pelan-pelan perbanyak testing content nanti juga pada akhirnya tau fokusnya harus kemana.

Kedepannya kira-kira Overheard Jakarta bakal kayak gimana?

Amira & Irene: Tetap akan share percakapan-percakapan di Jakarta sih, cuma kita sekarang ada konten-konten yang kerjasama sama brand juga. Untuk Overheardjkt kita tetap pertahankan pakemnya, jadi hanya bisa soft-selling. Soalnya kalau hard-selling pasti justru engagementnya turun. Bakal lebih seleksi konten juga, karena kalau misalkan ada konten yang dianggap bersi bullying atau konten politik biasanya rame tuh yang hate comments, kita gak mau kayak gitu.

Kita juga lagi ada project buku yang masih dalam proses dan merchandise juga. Sempat mau bikin Overheard Bali juga karena ngerasa budaya di Bali juga punya ciri khasnya sendiri, tapi belum jadi dijalanin. Bakal lebih open-minded dengan konten-konten baru juga. Kedepannya juga lebih banyak kolaborasi, contohnya kayak yang sekarang udah berjalan dengan Rawon Bar (ada kata-kata dari Overheardjkt di packagingnya).

Gimana cara kalian bikin akun yang atraktif?

Bill Satya: Yang pasti sih kalau sekarang orang kebanyakan cari akun yang bermanfaat buat mereka, jadi harus ada konten edukasinya. Jadi selain visual, gue juga mulai bikin obrolan-obrolan atau bagi-bagi tips yang sifatnya lebih edukatif lewat IG stories. Intinya sih bangun storytelling dan komunikasi 2 arah sama audience gue. Kalo soal caption biasanya gue gak terlalu bercerita sih. Lebih suka lihat perspektif orang yang berbeda-beda, gimana mereka menginterpretasi visual yang gue hasilkan.

Amira & Irene: Kalau Overheardjkt karena lebih mengutamakan social commentary jadinya lebih fokus ke konten-konten yang relatable dan current untuk engage sama audience kita. Gak perlu harus selalu lucu, tapi tetap menggelitik orang buat respon. Kita biasanya gambarin suasana percakapannya di caption.

Nah, dari obrolan bersama Irene, Amira, dan Bill yang dipandu Windy Iwandi itu kita jadi lebih tau gimana struggle yang harus dihadapi sebagai content creator dan bagaimana proses mereka menghasilkan konten-konten yang stand out. Terakhir mereka kasih tips nih buat bikin konten yang stand out di 2019 ini:

  • Be consistent !
  • Bikin content plan, supaya tahu apa yang bisa dimaksimalkan dari konten kita
  • Kalau untuk akun bisnis, jangan terus-terusan jualan. Coba bikin akun kalian lebih entertaining atau informatif. Jangan lupa, selipin nilai cerita di dalemnya.
  • Bikin konsep yang menarik
  • Jangan lupa research buat lebih menggali apa yang bisa kita jadikan bahan konten
  • Ketika berpikir suatu ide brilian, jangan takut eksekusi, jangan takut terlalu banyak mikir
  • Connect and create collaboration!

Jadi gimana FrendZ? Udah siap buat bikin konten yang stand out di 2019?

__________

Follow us on:

Instagram : https://instagram.com/vosfoyer

Youtube: https://youtube.com/c/vosfoyerchannel

Facebook: https://www.facebook.com/vosfoyer/

Line@: @vosfoyer

back