HOW TO POPULARIZE NICHE CONTENT?
Things that we can learn from Ngobrol Matematika

Bahas niche content selalu punya tantangan tersendiri. Bukan hanya tentang gimana desain dan visualnya, tapi juga cara untuk menyampaikannya sehingga bisa diterima oleh lebih banyak orang. Saya akhirnya mampir ke kantor salah satu perusahaan unicorn yang ada di Blok M, Jakarta Selatan untuk ngobrol sama Yuza Mulia, co-founder Ngobrol Matematika (@ngobrolmatematika). Bareng 3 temannya Barry Mikhael Cavin, Adi Prasinda Putra, dan Muji Prasetyo, Yuza coba memanusiakan matematika. Mereka membuat konten yang seringkali dijauhi masyarakat menjadi lebih relate dan menarik untuk dibahas.

instagram.com/ngobrolmatematika

Kapan lo sadar jatuh cinta pada matematika? Kok bisa sih?

Yuza: Gue suka matematika dari kelas 5 SD. Sebelumnya sih matematika pelajaran biasa aja buat gue, bukan favorit, bukan yang gue gak suka juga. Gue lebih suka Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, lebih banyak storytelling. Pas kelas 5 itu ada satu momen dimana gue dihukum sama guru karena gak ngerjain tugas atau salah jawab pertanyaan gitu. Intinya gue dihukum duduk lesehan di depan kelas sampe sisa pelajaran. Itu terjadi beberapa kali. Dari situ gue gak mau lagi kayak gitu. Apalagi, dulu di kampung gue (Aceh) lantainya masih yang semen gitu jadi kalo duduk putih-putih celananya.

Dari situ gue coba berusaha perhatiin pelajaran matematika. Bosen sih karena pas SD kan matematika kayak hafalan. Perkalian, perbandinga, tambah, kurang, dan lainnya itu ngebosenin. Gak make sense aja menurut gue belajar matematika. Somehow setelah lebih gue perhatiin ada momen-momen yang bikin ngerasa ketagihan dan tertantang, kayak teka-teki. Akhirnya guru gue ngeliat kalo gue jadi suka matematika dan punya potensi.

Gue diikutin tuh di olimpiade matematika tingat kabupaten. Belajarnya 1 tingkat lebih tinggi bareng anak-anak kelas 6. Menang sampe ke tingkat provinsi bikin gue makin tertantang buat ngulik. Keterusan akhirnya sampe SMP dan SMA. Matematika jadi make sense dan punya konteks sendiri di kepala gue pada akhirnya.

Jadi kalau buat lo, matematika itu apa sih?

Yuza: Kalau sekarang akhirnya gue paham bahwa matematika itu sebetulnya adalah alat untuk kita berpikir problem solving. Matematika jadi hal yang melatih mekanisme berpikir gue.

Yuza Mulia Ngobrol Matematika vosFoyer

Apa sebetulnya masalah yang lo dan teman-teman lo lihat sampai akhirnya bikin “Ngobrolin Matematika”?

Yuza: Ngotik itu datang dari 4 co-founder dengan pain masing-masing. Kita berempat sepakat bahwa orang Indonesia tidak atau belum cukup celik dalam hal matematika. Misalkan gue ditanya, “lo jurusan apa?”. Gue jawab, “jurusan matematika” itu tuh respon orang bakal beda-beda banget. Yang positif bilang gue anak jenius. Yang gak positif bilang gue kurang kerjaan.

Padahal menurut gue dan teman-teman, matematika tuh bukan cuma untuk orang pinter dan bukan juga kurang kerjaan. Kita berempat kerja di company yang beda-beda dan kita betul-betul ngerasa kalau matematika tuh penting. Kita bertanya-tanya, “kenapa orang gak suka matematika?”.

Akhirnya kita bikin survey untuk tau kenapa orang-orang suka atau gak suka sama matematika. Tahap pengenalan jadi point yang paling banyak jadi permasalahannya ternyata. Buat yang senang, mereka bilang karena gurunya yang ngajarin enak. Kalau yang gak suka kebanyakan karena gurunya galak atau ngebosenin. Ini yang harus kita ubah. Bayangin aja, kalo lagi pendekatan sama orang tapi udah dapet kesan jelek duluan, keburu ilfil dan jadinya gak keliatan tuh yang seru atau sisi bagusnya.

Kesimpulan yang kita dapat ya banyak orang yang kenalan sama matematika dengan cara gak baik, akhirnya mereka gak suka. Padahal, matematika tuh penting untuk menghadapi kemajuan hari ini, khususnya dari sisi teknologi dan kegiatan sehari-hari. Kita percaya kalo visi besar bahwa masyarakat Indonesia harus celik matematika dan masyarahat harus melihatnya sebagai sesuatu yang penting. Untuk mencapai itu, ada 2 hal yang perlu diperbaiki:

  1. Komunikasi: Gimana cara orang menarasikan dan mengkomunikasikan matematika sebagai sesuatu yang penting dan dapat diterima banyak orang dengan pendekatan yang asik.
  2. Memperkuat komunitas matematika: Komunitas ini yang nantinya berperan membuat matematika menjadi sesuatu yang keren. Kalau orang-orang dengan background matematika yang bekerja di berbagai lini gak kuat atau bahkan gak bangga dengan matematika, gimana orangdi luar komunitasnya mau tertarik?. Kayak komunitas Youtube yang kuat banget. Konten yang ada akhirnya makin beragam dan bikin orang mau jadi Youtuber.

Kita ngebayangin kalau matematika punya infuencer sebagai role model yang kece-kece dan berhasil dikomunikasikan dengan baik, apa yang bisa terjadi?. Setidaknya orang mau noleh dulu dan nanya, “matematika tuh ngapain aja sih?”.

Untuk itu, makanya kita mulai dari Instagram. Bikin cara komunikasi yang santai dengan konten-konten yang lebih relate dengan banyak orang. Kita coba ‘meringankan’ matematika lewat circle terdekat dulu. Senggaknya orang-orang yang belajar atau fokus di matematika bangga dulu, math is cool!. Harapannya dari situ bakal muncul banyak nano & micro-influencer.

So far selama berjalan 8 bulan ini, tantangannya apa?

Yuza: Pertama pastinya dari tim. Awalnya cuma berempat terus tambah jadi 12 orang. Semuanya anak matematika dengan kesibukan masing-masing. Kita gabungan antara anak-anak UI dan ITB. Ada yang udah kerja, ada juga yang masih kuliah. Kalau dari eksternal tuh mungkin resistensi anak-anak matematika masih terlalu tinggi. Banyak juga yang kepalang benci dan gak mau noleh sama sekali.

Ada yang menganggap matematika tuh memang susah dan cuma bisa dipahami segelintir orang jenius. Cuma orang-orang terpilih yang bisa paham. Sementara menurut kita gak gitu. Orang-orang gak talented atau gak jenius pun bisa dan perlu paham walaupun gak dalam. Orang-orang di lingkungan matematika harunsya bisa jadi penyeimbang, bukan justru ikut-ikutan mengecilkan matematika. Kita juga sadar ketika bikin konten gak bisa tarik terlalu jauh, tapi itu yang dibutuhkan supaya orang mau ngelirik. Yang lebih ringan, lucu, dan menarik.

 

Konten apa aja yang udah dicoba?

Yuza: Kita terus iterasi dari awal dan coba banyak jenis konten. Ada yang bentuknya materi, jokes, dan cerita orang. Sejauh ini yang paling works sih konten jokes pastinya kalo dari segi share. Kalo dari save paling banyak materi yang kita kemas jadi storytelling materi. Itu bisa ribuan.

Yang paling baru kita lagi develop tipe yang engagement-nya juga lumayan bagus. Konten cerita orang yang bentukannya kayak Humans of New York gitu tapi dalam bidang matematika. Ceritanya dari anak-anak yang suka matematika, kuliah di matematika, dosen, dan mereka yang background pendidikannya matematika tapi kerjanya di berbagai industri. Kita juga baru mulai podcast dengan 2 tipe konten yang super geek dan yang berbentuk monolog. Masih terus kita coba.

Nah ngomongin soal followers nih. Pas 4 bulan pertama kira-kira kan Ngotik followers-nya masih di angka 2000-an, sekarang di bulang ke 8 udah 18.700-an. Menurut lo apa yang bikin growth-nya secepat itu?

Yuza: Yang paling kerasa banget impact-nya adalah pas dapet endorse dari Youthmanual. Kita masuk “5 Akun Rekomendasi” dari mereka yang which is followers-nya mayoritas anak SMA, jadinya relate banget dan langsung masuk semua ke kita. Konten-konten materi dan jokes yang sangat shareable. Itu bisa naik ratusan. Terakhir kita juga pasang ads untuk konten-konten yang engagement-nya bagus.

 

Akan seperti apa Ngobrol Matematika kedepannya? Ada konten-konten baru yang di-develop atau berubah berubah jadi bentuk lainnya mungkin? Atau akan ada kolaborasi?

Yuza: Pastinya pengen bikin orang-orang lebih celik matematika. Untuk 2 tahun pertama ini bakal fokus di situ sih dan membangun network seluas-luasnya. Kalau jangka panjangnya pengen Ngotik bisa punya kotribusi besar untuk matematika. Ketika orang mau tanya tentang matematika, mereka cari Ngotik. Pengennya sih kalau ada jalannya bisa masuk ke soal penyusunan kurikulum, membentuk bagaiana guru mengajarkan matematika, dan juga kebijakan-kebijakan.

Untuk kolaborasi udah mulai kita jajaki sih sama stakeholders lainnya. Gak menutup juga kerjasama sama brand walaupun mungkin masih belom jadi target dalam waktu dekat karena belum banyak juga yang mau tap in ke pendidikan dan sains. Yang pasti kita bakal mulai tahun ini sih kolaborasi sama influencers.

 

 

 

 

 

 

View this post on Instagram

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

. -Math Riddle Answer 6- . . Yeay, ternyata dengan kenaikan harga tahu, si Joni malah bisa dapet tahu lebih banyak dari sebelum kenaikan harga.! . Pasti pada kepikiran tuker seribuan kan, mimin juga baru dapet pencerahan setelah beli tahu bulet beneran di stasiun manggarai bahwa dengan pecahan dua ratusan akan lebih menguntungkan. . Btw ternyata ada yang sepemikiran sm mimin nih, congrats buat @fandi_ahmad96 yang bisa menjawab dengan benar!! Ternyata ada gunanya kan belajar matematika *eaaa 😋 . . Ide soal ini ditulis berdasarkan kisah nyata (udah kayak film horor aje wkwk), tapi yang kisah nyata hanya harganya aja yang naik, mimin ga bener bener nukerin pake 200 an, dan abangnya pasti mengeluh kalo mimin 12 x bolak balik 😅 . . #mathriddle #tahubulet #kisahnyata #nyatanya #mimin #cuma #dapet #14tahu #sedih #ngotik #ngobrolmatematika

 

A post shared by Ngobrolin Matematika (@ngobrolmatematika) on

Gimana proses kalian bikin konten?

Yuza: Awalnya pasti serabutan karena masih berempat. Semuanya bikin konten masing-masing. Kalo sekarang coba kita bikin spesialisasi sih. Untuk 3 bulan terakhir ini kita juga udah mula bikin content schedule dan udah punya graphic designer juga yang bikin visual konten jadi lebih menarik dan bikin branding yang lebih proper.

Setiap bulan kita juga bikin monthly meeting untuk evaluasi konten. Dilihat semuanya. Apa aja yang lagi berjalan, performan konten, dan plan untuk konten kedepannya. Mostly satu orang pegang 1 konten khusus sesuai spesialisasi jokes, materi, dan cerita.

 

Lo pengen ngomong apa sih buat yang gak suka matematika?

Yuza: Buat yang gak suka matematika menurut gue jangan tutup mata deh, karena mau gak mau dimanapun lo bakal ketemu sama matematika. Simple-nya gini, banya orang yang cerita ke gue mereka kuliah di FISIP atau di sastra, tetep aja man ketemu matematika! Research needs mathematic. Lo gak bakal bisa jauh-jauh dari matematika. Kalaupun lo gak kerja di bidang matematika, tapi lo suatu saat pasti akan dealng dengan orang-orang yang kerjanya kaitannya sama matematika, apalagi di jaman teknologi sekarang.

Contoh lainnya gini, ada salah satu mentor gue yang cerita anaknya gak suka matematika karena pengen jadi model. Menurut anaknya ngapain belajar matematika, orang maunya jadi model. Akhirnya mentor gue jelasin kalo jadi model itu juga butuh matematika. Contohnya dalam hitungan langkah di panggung.

Yuza Mulia 4 vosFoyer

Seberapa penting ketika bikin movement atau inisiatif seperti Ngobrol Matematika ini, isunya relate sama diri kita?

Yuza: Penting banget untuk relate. Karena sebagai generasi millennials nih kita banyak banget resahnya. Tapi balik lagi ke diri kita, tanya apa yang paling relate sama diri kita. Kita gak bisa jadi jawaban untuk semua isu atau semua masalah. Ketika udah relate, itu yang akan bikin kita semangat untuk ngerjainnya dan gak gampang goyah.

Peran temen atau partner juga penting. Kita gak bisa jalan sendiri. Karena kita gak bisa ngerjain semua hal sendiri, harus dibagi bebannya. Teman-teman yang sesuai dan relate sama topik yang kita concern penting buat support dan ngebantu kita.

 

Cerita Yuza diatas menjelaskan kalau bikin konten yang niche untuk bisa diterima tuh susah susah gampang. Permainan angle jadi kunci untuk bikin konten yang niche itu jadi lebih menarik. Dari contoh konten yang ada, Ngobrol Matematika juga melibatkan emosi dan membuat matematika yang kaku menjadi ‘manusia’ yang bisa berinteraksi dan menginspirasi. Humanizing it is the key.

“You will never know how good is your idea until you execute it. But, when you execute it, think to always level up with another great ideas!”

Love,

Calvin Budianto

__________

Follow us on:

Instagram : https://instagram.com/vosfoyer

Youtube: https://youtube.com/c/vosfoyerchannel

Facebook: https://www.facebook.com/vosfoyer/

Line@: @vosfoyer

back