Online presence sekarang ini jadi penting banget karena bisa jadi gambaran pencitraan diri dan alat personal branding. Tapi, vosFoyer melihat hal yang berbeda dari Kevindra Soemantri. Dikenal sebagai kontestan Masterchef Indonesia Season 1 termuda, Kevin justru saat ini dikenal sebagai food writer. Namanya mungkin gak setenar food blogger, foodgramers, atau food Youtuber yang biasa kita dengar seperti anakjajan, eatandtreats, mrfoodjournal, myfunfoodiary, dan lainnya. Tapi jangan salah track record-nya gak main-main. Kini Kevin sibuk menulis buku dan blog Top Tables bersama Natasha Lucas. Baru-baru ini juga Kevin menggemparkan para foodies dengan kemunculannya dalam seri dokumenter Streetfood yang tayang di Netflix bersama dengan kekayaan kuliner Yogyakarta.

Sebetulnya gimana sih Kevin bisa punya network seluas itu sampai bisa mencapai posisi-posisi tersebut? Gimana personal brandingnya bisa sangat kuat walaupun secara online belum terlalu kuat? Gimana juga pandangannya soal industri kuliner Indonesia dan food content creator di dalamnya? Yuk kita ngobrol sama Kevin!  

 

Ok vin, dulu apa sih yang bikin lo kepikiran join audisi Masterchef Indonesia?

Awalnya pas SMP gue gak ada bayangan sama sekali buat masuk dunia kuliner. Kepikirannya jadi konsultan, ngurusin keuangan, accounting, banking, stock market, dan keuangan lah. Sampe SMA kelas 2 fokusnya masih di akuntansi, makanya gak peduli nilai Bahasa atau IPA jelek. Sampai akhirnya gue jadi salah satu anak dari sekolah gue yang dapet undangan buat masuk Ekonomi UI, gak perlu ikut SNMPTN (Saringan Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Entah kenapa pas masuk SMA kelas 3 semester 2 excitement untuk masuk akuntansi itu berkurang. Dulu gue pas itu jualan American Classic Soft Baked Cookies di sekolah. Pada intinya sih itu untuk menyalurkan sisi entrepreneurship gue. Tiba-tiba ada audisi Masterchef sebelum ujian nasional. Iseng-iseng ikut, akhirnya pas lagi tryout dapat kabar dipanggil audisi. Setelah berapa round pada intinya gue masuk ke 30 besar finalis, jadi harus shooting di saat UN dimana gue udah ngelewatin ujian sekolah dan ujian praktik. At the end, yang gue pilih ya Masterchef setelah melewati berbagai perdebatan di rumah.

 

instagram.com/kevindrasoemantri

Setelah terhenti di 10 besar, lo kemana?

Gue lanjut praktik real di fine dining. Caranya tradisional, mentoring di bawah profesional. Tapi ini cara yang juga dipakai chef-chef terkenal kayak Gordon Ramsay dan Jamie Oliver di awal karirnya. Gue coba memperdalam masak dan memang suka. Dari situ lanjut internship di salah satu restoran Perancis yang ada di Jakarta. Setelah 6 bulan gue lanjut ke Bulgari Resort Bali selama 2,5 tahun. Disana gue belajar standar Michellin Star, presisi, dan detail keseluruhan. Walaupun status intern, tapi responsibility-nya sama dengan tenaga tetap.

Bayangin aja gue harus nyiapin amuse-bouche (mouth amuser) atau bisa dibilang pre-appetizer. Kalau restoran lain biasanya cuma 1-2 jenis, di tempat gue ada 5 jenis dan harus beda setiap harinya. Besar pressure-nya karena kalo itu gagal akan merusak the whole dining experience. Selain itu kalau terlambat, pasti akan berdampak juga ke rangkaian dish selanjutnya.

 

Lama juga ya di Bali. Habis itu lanjut ke mana?

Gue balik ke Jakarta dan join di redaksinya Kokiku TV. Awalnya jadi food writer, tapi kemudian naik jadi editor. Gue bikin resep, story line untuk shooting, sourcing bahan, dan juga terlibat di bukunya Kokiku. Kalau dipikir-pikir bakat jurnalistik udah ketauan ketika jama SMA tes IQ. Gue dibilang cocok jadi jurnalis, tapi fokusnya gue ke akuntansi saat itu (hahaha…).

Gue akhirnya seriusin nulis dan research lebih dalam tentang kuliner. Jaman itu kalo nulis gue pegang Thesaurus supaya lebih kaya kosakatanya. Nah, suatu hari ada editornya The Jakarta Post sama timnya dateng ke Kokiku buat wawancara dan pemotretan Yuda Bustara. Editornya itu ngobrol sama gue dan akhirnya minta gue untuk coba submit artikel. Seneng banget tuh karena menurut gue Jakpost is the New York Times of Indonesia. Dari sana gue dipercaya buat jadi contributor and columnist di koran The Jakarta Post dan Jakarta Post Weekender (J+). Pengalaman ini yang mempertajam kaidah-kaidah jurnalistik gue dan ngebawa gue keliling ke berbagai negara.  

instagram.com/kevindrasoemantri

Turning point apa yang bikin lo yakin jadi food writer?

Pas gue di Bali, kepikiran satu pertanyaan yang gue rasa sama seperti kebanyakan orang ketika pertama kali masuk dapur: “lo beneran mau kerja di kitchen?”. Harus agak gila sedikit soalnya kalo kerja di dapur. Tapi, gue suka makan. Akhirnya gue berpikir kalo kuliah musik kan gak harus jadi pemain musik? Bisa aja jadi produser atau composer. Kalo kuliah fesyen kan gak harus jadi desainer?. Terus kenapa gue harus mengkotak-kotakan harus jadi chef?/

Saat itu di Bali ada Ubur Writers Festival. Di sana ada satu sesi yang ngebahas tentang makanan. Ternyata food writing itu betul-betul kompleks. Kuliner itu ternyata sedalam itu. Akhirnya gue tertarik dan mulai belajar dari sana.

Selain karena ini, apakah ini juga karena lo melihat adanya absent di bidang itu?

Exactly! Temen-temen gue pada jadi chef dan banyak yang punya restoran. Kalo semua jadi chef, siapa yang akan menceritakan tentang mereka?.

How about Traveloka Eats?

Gue jadi founding editornya. Gue bersama partner di sana membangun timnya, content pillar, pesan yang mau dibawa, dan unique selling point dibandingkan platform lainnya. Kita sepakat bahwa USP kita ada di konten editorialnya. Di sana gue juga belajar banyak tentang data-driven content, UI/UX, online-offline marketing, dan lainnya yang sebelumnya gue gak paham terutama dari sisi teknologi. Keputusan untuk fokus pada konten editorial tervalidasi ketika platform lainnya juga bikin hal-hal serupa. Content is the game. You need content to make users loyal to your product.

Walaupun sekarang gue udah gak di sana tapi masih suka gangguin social media team-nya. Gue ngerti kalau di web/apps treatment pasti akan beda dengan content di social media. Tapi, jangan sampai punya 2 kepribadian yang berbeda. Traveloka Eats akhirnya jadi percontohan buat Traveloka untuk buat content yang gak melulu soal campaign.

Sekarang lo fokus sama Top Tables nih, ceritain dong!

Gue sama Natasha mulai Top Tables di 2015, pertama kali terbit di akhir 2016. Gue cukup idealis kalo soal food writing. Sebagai independent food guide, Top Tables lahir dari kesedihan gue melihat banyaknya food guide ‘bayaran’ di Indonesia. Maksudnya adalah mereka masuk ke sana dan mereview tempat itu karena dibayar. Bukannya salah, cuma gue tipenya masih percaya sama nilai seperti honesty and integrity.dibayar.

Industri kuliner kita belum sebesar Aussie, HongKong, Italia, AS. Kalo udah sekuat mereka boleh deh. Kasarnya, negara ini belum maju, lo udah korupsi. Industri kuliner ini belum kuat, tapi udah kebanyakan sugar coating. Belum apa-apa udah digerogoti, gimana mau maju?

Gue dan Natasha, we review restaurants by our own. Semuanya terdokumentasi secara baik, alphabetical, dalam folder yang di sana kita tempel semua bon bersama confidential form. Segitunya. It should be like that.

Gue bertanya-tanya kenapa food media di Indonesia kok gak berkembang ya?. Food media apa yang bisa related sama kita? setidaknya yang seumuran gue. Bukannya gak ada. Indonesia punya beberapa food media yang pada masanya mereka bagus, tapi gak berkembang mengikuti zaman. Sementara industrinya berkembang dan butuh point of view yang lebih kritis. Jangan salah, restaurateur yang benar mereka sangat appreciate terhadap food critics. Mereka senang karena biasanya food critics menyampaikan angle yang tidak menjatuhkan, tetap ada sisi apresiasinya, dan baik untuk restoran tersebut.

Buat gue, kalau nantinya Top Tables besar pun tetap harus ada media lainnya yang menopang. Makanya gue ajak food media lain untuk mulai coba ubah angle juga. US industri kulinernya hidup karena food media-nya banyak. Apakabar food media di Indonesia? Media itu punya peran connecting the dots. Kita butuh media untuk baca tren dan kenal sama suatu industri. Media kayak Forbes dan Fortune cover ekonomi dan bisnis, kedepannya Top Tables akan seperti itu untuk industri kuliner, tapi tetap balance dengan cultural content-nya. Tunggu sampai industri ini besar banget baru nantinya bisa fokus pada yang lebih niche. Top Tables mau ambil sisi casual dan menguatkan storytelling.

instagram.com/kevindrasoemantri

Kedepannya Top Tables akan jadi apa?

Top Tables gue mau buat sebagai voice of food for our generation. Stick to the product and the story with emotion. A combination of Manual, White Board Journal, and Eater. Food is something that is casual, easy going, and approachable. Sebagaimana makanan, kontennya juga harus seperti itu. Gak too much or to deep kayak fashion misalkan.

 

Gimana lo melihat the whole food industry in Indonesia?

Ngomongin food industry di Indonesia, gue hanya akan merujuk ke-3 kota yaitu Jakarta, Bali, dan Bandung atau Surabaya. Untuk kota lainnya gap masih terlalu jauh. Makanya, Top Tables gak akan sukses di kota lain. Dia hanya akan Jakarta-sentris. Coba bayangkan, Jakarta dan Sukabumi hanya terpaut jarak yang cuma berapa jam, tapi food culture-nya beda total. Bahkan Jogja-Semarang aja udah beda. Makanya if you handle food business, coba ambil helicopter view. Jangan memaksakan prinsip Jakarta untuk diaplikasikan di kota-kota lainnya. Beda kalau di US, pemahaman mereka di banyak kota sudah sepemikiran.

Kalau mau ambil fokus either Jakarta-sentris atau Bali-sentris. Karena daerah lainnya pasti bisa tertinggal berapa tahun dari 2 kota itu. Tren Red Velvet Cake di Jakarta sudah ada dari tahun berapa, temen gue di Makassar bilang Red Velvet lagi naik lagi.

Di Jakarta kita bisa bicara lebih luas. Contohnya yang paling menarik adalah third wave street food. Ngomongin Jakarta juga gak bisa lepas dari tren anak muda yang jadi food entrepreneur. Yang harus jadi perhatian adalah bagaimana mereka bisa use local ingredients, food & culture. Lebih mudah untuk memulainya dan trennya memang back to grassroot, going local. At the end that’s how you sustain the business. Lebih murah, lebih mudah, lebih asik. Bicara soal ego, sekarang trennya adalah ada rasa bangga ketika bisa bikin makanan lokal dengan advance. Lebih familiar, chance untuk terjual lebih banyak. That’s why bakmie dan comfort food lainnya naik lagi.  

Soal makanan, Jakarta is very unpredictable when it comes to new food trend. Karena influence terlalu banyak. Tapi yang jelas 5 tahun kedepan local and vegan food yang akan jadi sorotan. Vegan lebih kepada kebutuhan, bukan lagi tren. Also the rising of street food. Jakarta enak, kolaborasi gak ada matinya. Orang art masuk ke food. Orang branding masuk ke food. Begitu pula sebaliknya. Gak akan ada habisnya.

 

How about rating?

Soal penilaian, dulu itu food, service and ambiance yang jadi patokannya. Tapi sekarang juga gak applicable ke semuanya. Sekarang ini yang baru mungkin lebih ke food, service, and branding. Food saat ini juga udah jadi part of the lifestyle. Kedepan lo bisa ngobrolin food sesantai ngobrolin fashion. Maybe in 5-10 tahun kedepan.

 

Comfort Food or Fine Dining?

Fine dining is declining. Habit-nya udah berubah.  

instagram.com/kevindrasoemantri

Seberapa penting branding untuk food business?

Kita harus paham restoran ada berapa level. Ada street food atau warung, family restaurant, fast food, fine dining. Food, service, ambiance atau branding itu gak bisa dipakai di semuanya. Contoh street food. Itu hanya bisa dinilai dari food and service. Branding itu bisa dipakai bisa ngga. Food kebutuhan primer, service sekunder, ambiance and branding itu tersier.

Yang menarik dari branding adalah ketika itu encapsulates the whole experience. Contoh, bagaimana KAUM create the story behind the restaurant. Bagaimana mereka menyuarakan unique selling points mereka. Contoh lainnya adalah restoran TRIO yang ketika disebut nama itu gue bisa langsung inget comforting home cooking plus dengan visual interior jadul dan kawasan Cikini yang menyatu. Food and service are number one tapi.

 

Enak atau Cocok?

Dalam konteks tulisan, gue akan bilang cocok. Karena ketika gue bilang cocok itu akan kembali ke preferensi masing-masing. But in real conversation, gue akan bilang enak. It’s a kind of expression dimana cocok, nendang, mantap, semuanya jadi satu. Kalau dalam tulisan jangan bikin judgement atau bangun ekspektasi pembaca.

instagram.com/kevindrasoemantri

Gimana sih lo membangun personal branding? Di Instagram misalkan, jumlah followers lo terbilang belum besar. Tapi di kehidupan nyata, branding lo udah kuat dan didukung sama network yang juga kuat.

Like a product. People will trust you either because of your price or your value. Itu bedanya dengan benda mati. As a person boleh sih langsung kejar fame. Tapi, kalo buat gue yang pertama harus dijawab adalah you know where you stand in the world. Lo mau jadi apa?. Visi lo apa?. What do you want to contribute?. Dari situ sebetulnya gak perlu mikirin personal brand tapi your interest, prestasi lo, apa yang lo lakukan akan membangun reputasi lo sendiri. At the end kalau lo mau memperkuat itu dengan social media ya go for it!. Inget, lo membangun personal branding itu for what cause?. Produknya (lo-nya) udah jadi belum? Jangan gembar-gembor tapi belum jadi. Orang akan kecewa ketika tau aslinya. Each and everyone of us dilahirkan dengan purpose masing-masing. Orang suka atau ngga, kalau kita konsisten, orang pasti akan lihat kita living our vision.

Pada akhirnya ketika melihat influencers sebanyak ini, lo kan harus buat diferensiasi. Food instagramers sekarang ada super banyak di mana-mana. Lo harus tau unique selling point lo di mana. Be a storyteller of yourself. Jangan fake. Live the life of your content. You need to be real and honest. At the end honesty is the highest currency. Di generasi kita,voice of food-nya kurang. Kalo gue mau ambil peran disitu.

Pada akhirnya ternyata membangun personal branding gak harus selalu melalui media sosial. Offline presence tetap jadi penting dan itu yang akan membekas di benak setiap orang yang bertemu dengan kita. Kevin adalah salah satu bukti bahwa konsistensi, kejujuran, dan integritas bisa jadi hal yang sangat berharga di dalam karirnya.

__________

Follow us on:

 

Instagram : https://instagram.com/vosfoyer

Youtube: https://youtube.com/c/vosfoyerchannel

Facebook: https://www.facebook.com/vosfoyer/

Line@: @vosfoyer

back